Pohon Itu
“Agus....
Agus.... Agus.....” Suara itu memanggil gue tiap sore (Oh iya, Agus adalah
panggilan gue waktu gue masih kecil). Setiap suara itu memanggil, gue selalu
keluar rumah untuk memastikan bahwa yang memanggil gue itu adalah Sahabat gue
Irvan. Dia salah satu sahabat gue waktu gue kecil. Irvan udah gue kenal,Sewaktu
gue pindah rumah, ke Sading. Kami sering menghabiskan waktu bersama.
Sore itu, cuaca sangat
cerah. Seperti biasa kami selalu bermain bersama. Saat itu Irvan menunggu gue
di depan rumah gue, Sambil membawa Sepedanya.
Irvan : “Gus, nyari
Gracias yuk...”
Gue : “Ayok, entar dulu aku minta Izin sama Ibuku dulu...”
(Beberapa menit kemudian).
Irvan : “Gimana, Dikasik...?”
Gue : “Dikasik” (Gue bergegas mengambil sepeda gue, Lalu kami berangkat bersama).
Gue : “Ayok, entar dulu aku minta Izin sama Ibuku dulu...”
(Beberapa menit kemudian).
Irvan : “Gimana, Dikasik...?”
Gue : “Dikasik” (Gue bergegas mengambil sepeda gue, Lalu kami berangkat bersama).
Gracias
dan Irvan adalah teman SD gue, Sewaktu SD kami bertiga sering menghabiskan
waktu bersama-sama. “Van anjingnya banyak nok....” Iya, salah satu Rintangan
kalo gue mau Ke rumah Gracias adalah harus melewati anjing-anjing galak. Banyak
teori yang kami gunakan untuk melewati anjing-anjing Galak, mulai dari menuruni
sepeda sambil mendandannya Sembari berjalan. Hingga menggigit lidah pun pernah
kami lakukan. “Akhirnya nyampek juga gus....” kata Irvan, “Iya untung anjingnya
gak pada ngejar” Jawab gue.
Gue dan Irvan :
“ Gracias.... Gracias.... Gracias....”
Gracias : “Iya....”
Gue : “Ke lapangan Yuk, Gras...”
Irvan : “Iya, Ayok kita Ke markas...”
Gracias : “Oke, Ayok berangkat...”(Bergegas, Gracias mengambil sepedanya, lalu Kami bertiga bergegas untuk pergi Ke lapangan).
Gracias : “Iya....”
Gue : “Ke lapangan Yuk, Gras...”
Irvan : “Iya, Ayok kita Ke markas...”
Gracias : “Oke, Ayok berangkat...”(Bergegas, Gracias mengambil sepedanya, lalu Kami bertiga bergegas untuk pergi Ke lapangan).
Bisa
dibilang hampir setiap hari kami pergi ke lapangan. Bisa untuk sekedar,
jalan-jalan doang, bermain bola, Atau kami sering berlari-lari keliling
lapangan, dan banyak lagi deh. “Nah itu dia tu Markas kita...” Teriak gue
lantang. Pohon yang tidak terlalu tinggi dan biasa kami panjat yang berada
disamping lapangan, itulah markas kami. Diakala siang pulang sekolah, dalam
perjalanan pulang kami biasa menyempatkan diri untuk berteduh disana. Sore itu
kami menghabiskan waktu untuk Berteduh di Pohon itu(Markas Kami), Kami mengobrol
hingga kehabisan topik pembicaraan. Banyak hal yang kami sering lakukan di
Markas kami, megobrol, makan Snack, dan tak jarang kami membersihkan daerah
dekat Markas, agar lebih terlihat bersih.
Irvan :
“ We Gus ngapain kaum Diatas sana...? tumben berani manjat sampe setinggi
itu...”
Gue : “Ada deh, kalo mau tau manjat aja ke sini...”(Gue ada di dahan pohon paling atas).
Gracias : “Iya nanti aku manjat sampe sana...”
Gue : “Ada deh, kalo mau tau manjat aja ke sini...”(Gue ada di dahan pohon paling atas).
Gracias : “Iya nanti aku manjat sampe sana...”
Waktu
itu Gue sama Irvan yang paling takut manjat. Sedangkan Gracias udah terbiasa manjat
pohon tinggi-tinggi. Karna apa?, ya karena dirumahnya ada pohon mangga, jadi
dia udah bisa dibilang mahir dalam hal manjat-memanjat. “Agus Love Gek Ari” itu
yang gue ukir di pohon waktu itu. Ya dialah cewek yang gue taksir waktu SD. Ya
bisa dibilang cinta monyet gue. Sampai sekarang entah ukiran itu masih atau
tidak, gue juga gak tau. “hahaha... Aku tau Gus” setelah Gracias membaca ukiran
itu dia nampak sangat senang, sedangkan karena Irvan gak berani manjat sampe
Setinggi itu dia gak tau apa yang gue Ukir. Tapi pada akhirnya dia juga tau
karena di kasi tau Gracias.
Ya itulah masa kecil gue dan
Sahabat-sahabat gue, gue berharap gue bisa bertemu sama mereka lagi. Semenjak
kelas 6 SD kami jadi jarang pergi ke “Markas” apalagi, Gracias udah pindah
rumah ke daerah Dalung. Tapi untung dia gak pindah Sekolah, jadi kami masih
bisa bersama. Akhirnya kami LULUS dari SD, setelah lulus Gue ngerasa
persahabatan gue akhirnya berpisah, Gracias Yang pindah rumah, Irvan yang beda
SMP sama gue. Kami jadi seperti Berpisah, gue rindu masa-masa kami bersama.
Pada akhirnya Setelah gue kelas 2 SMP gue juga pindah rumah.
Sekarang
cuman Pohon itulah yang menjadi bukti persahabatan Gue. Gue juga gak tau entah
pohon itu masih disana, atau enggak. Tapi gue berharap Pohon itu masih ada. Dan
kalo gue ada waktu gue pingin banget manjat Pohon itu lagi. Kenangan masa kecil
yang gak bakal gue lupain. Walau dibayar berapa pun gue gak rela kehilangan
kenangan gue ini. Pohon Itu, hanya
itu yang bisa ngingetin gue sama kenangan Persahabatan Gue.
Sekian
Cerita gue dipostingan kali ini. Terima kasih ya mau baca cerita gue. Ditunggu
ya kritik dan sarannya. Dan jangan lupa baca Cerita gue dipostingan berikutnya.
Sampai jumpa....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar