ini adalah cerita dari teman ayah saya, yang berbagi pengalamannya
pernah lihat seseorang sudah mendekati ajal?
pagi tadi sekitar jam 10, saya sampai di rumah tua. di desa banyuasri, singaraja.
saya hendak maturan di mrajan keluarga, trus karena ada di desa maka saya sempatkan utk nangkil di pura tirta sudamala yg jaraknya sekitar 300m dari rumah.ada beberapa remaja putri sedang nangkil di pura sudamala.tubuhnya basah kuyup, artinya mereka habis melukat.beliau yg berstana di pura ini berkenan memberikan manfaat banyak buat semua orang utk ikut menikmati ke-sidi-an air di pura ini.dulu, pura ini hanya sebuah mata air yg tak pernah kering.warga desa banyuasri memakai air yg keluar dari sumbernya utk mandi, dan juga utk persembahyangan.saya termasuk mereka yg pernah mandi di sumber mata air ini.begitulah kini, ida susuhunan berbagi buat semua umat, agar berkahnya dinikmati oleh semua pemedek, bukan saja dari desa kami tapi juga mereka yg berasal dari luar sana.
saya duduk di belakang pelinggih.terdiam beberapa lama dan lambat laun air mata saya mengalair perlahan.saya "bercakap".bercakap dg hati.tak ada yg tahu, bahkan oleh pemangku sekalipun.kejadian aneh sering terjadi kini.
dari pura ini,saya menuju warung syobak di terminal kampung tinggi.saya berdua, dengan ibu saya.kami menikmati makanan khas buleleng itu.dari terminal kampung tinggi, saya kemudian menuju rumah sakit umum singaraja.ibu saya berkata bahwa paman lagi sekarat.sudah lama saya tak berjumpa.dan sudah lama pula paman saya ini sakit.dari diabetes, sampai anulah, dan itulah.saat muda dulu, gemar minum.dari spiritus sampai bensin.kenikmatan di awal hidup, kini sengsara sebagai hasil di hari tua.
mereka yg menunggu, terkejut melihat kami datang.mata mereka lebam.merah dan berair.saya tak langsung masuk tapi melihat sekeliling.bercakap sebentar dg mereka yg menunggu di luar.beberapa menit kemudian, saya masuk ruangan.
bibi saya tersenyum getir.suaminya tertidur.matanya terkatup rapat.perutnya kembung.nafasnya tersendat.menarik nafas kencang dan menghembus lama.jarum tertusuk di pangkal paha.hidungnya tertutup cerobong yg disambung dg kantung plastik yg terkadang mengembang dan mengempis karena nafas.saya terdiam.memandangi tubuh yg sudah tak bisa apa apa.saya memandangi bibi saya.dia tak menghiraukan saya, mungkin tahu bahwa saya tahu sesuatu.dan dia tak mau mendengar.saya kembali memandangi tubuh terkulai itu.lama.kemudian saya pandangi lagi bibi saya.sama, bibi saya tak mau memandangi saya.
dalam diam itu,saya bercakap dg paman."pak dhe, maduwe plangkiran ring tempat pak dhe tidur?, kemu malu maturan. usan ring plangkiran, trus maturan ring sanggah lamun wenten di umah pak dhe ne. usan ring sanggah di jumah, mu nangkil ring kawitan. derike mepamit".tak ada yg mendengar.saya masih terdiam dan memandangi paman saya.kini mata saya memandangi bibi saya yg hanya cuma diam. matanya merah.pak dhe saya berkata, " tyang cumak dot matepuk sareng panak tyange sane komangan. i gede, bangiang pun ten mriki rawuh nyingakin tyang. tyang dot komang teke mriki". tak ada yg mendengar percakapan ini.semuanya diam, air mata bibi saya mengalir. ntah karena apa.
kemudian dg sekuat tenaga saya bilang ke bibi saya bahwa komang musti datang. biarlah si gede-anak tertuanya tak datang hari ini. maklumlah dia ada di batam. tempat yg jauh.sementara si komang berada lumayan dekat. sebelah barat pulau lombok. ia bertugas di sana. sebagai polisi, sama seperti pekerjaan bapaknya dulu.
dengan menahan nahan, saya berkata pada bibi saya. dia tak memandangi saya.hanya menyahut, "nggih jro, tyang lakar nunden komang teke mangkin". mata bibi saya menatap ke arah lain. dia tak menatap saya. dia menyembunyikan kesedihan.
akhirnya terjadi juga, bahwa saya kemudian "trance".paman berkata panjang lebar kepada semua yg ada di ruangan itu.air mata saya mengalir deras merasakan keadaan nun jauh di sana yg serba sepi dan gelap tempat paman kini berada.mulut ini berucap.air mata mengalir deras." tyang dot matepuk panak tyange i komang. niki tyang sampun di beten jurang, ngantosang. dumogi panak tyange mresidayang teke mriki nyingakin tyang mangkin..."
saya terjaga.menarik nafas dalam.mengucek ucek mata.tangan mengelap air mata dan kemudian refleks menurunkan dari mata, leher sampai ke perut dan di buang ke bawah.saya sadar kembali.semua diam.
saya raba kaki paman saya yg nafasnya sudah ter-engah engah.kakinya dingin.saya raba dadanya, masih hangat.keadaan kacau akan di mulai dari ujung kaki, bergerak ke atas.dingin akan merambat dari bawah kemudian naik ke atas.
jam 14.30,saya meninggalkan mereka di rumah sakit umum singaraja.saya hantar ibu saya pulang ke rumah.kini ibu saya kembali terdiam sendiri di rumah setelah selama 3 minggu berada di denpasar bersama cucu cucu.saat melintasi setra banyuasri tepat di markas tentara rider,saya berhenti.ngaturang 2 canang ke 2 penjaga setra banyuasri.kemudian mobil berlalu naik menuju denpasar.
jam 17.30, adik saya mengirim sms.paman saya sudah katam.pemargine becik. sampun mepamit ring ida bhatara kawitan.ten wenten sane uning.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar